GUBLINK

Dear Sahabat di Masa Kecilku,

Apakah kamu masih ingat tentang masa kecil kita? Tentang permainan yang kita mainkan? Tentang suasana menyenangkan yang kita rasakan? Atau mungkin tentang masalah-masalah yang kita hadapi?

Dahulu sekali, kita senang bermain di bawah hujan, meninggalkan jejak di atas tanah yang berlumpur, membentuk rumah dari lumpur, dan terpeleset di atas lumpur sambil tertawa gembira.

Dahulu sekali, kita berlarian di tengah terik matahari, melakukan permainan petak umpet, bernyanyi dan beradu suara di pinggir kali, memperhatikan dengan seksama air yang mengalir.

Dahulu sekali, kita duduk sembari bercerita di bawah pohon, entah itu tentang mimpi kita atau pengalaman kita yang menakjubkan untuk ukuran anak-anak seperti kita.

Yah, semua itu dahulu sekali, terbungkus rapi dalam memori kita masing-masing. Dia telah lama dan semakin lama tersimpan. Entah kapan kita bisa bernostalgia dengan kenangan itu.

Dear Sahabat di Masa Kecilku,

Aku tuliskan kata-kata Sahabat di Masa Kecilku, bukan karena kita tidak bersahabat lagi sekarang, kita akan selalu bersahabat kapanpun, di manapun, dan bagaimanapun keadaan kita. Tapi garis bawahilah, kita adalah sepermainan di masa kecil, dan aku sekarang membicarakan masa kecil kita.

Ah, coba kau bandingkan persahabatan di masa kecil sekarang sahabat masa kecilku. Apakah mereka sama dengan kita? Apakah perbincangan mereka sekarang akan terpikirkan di masa kecil kita dahulu?

Apakah masih ada permainan petak umpet? Gajah bertelur? Tali yeye? Atau mencari ikan di pinggir kali? Oh, miris adalah kata yang tepat yang bias aku jabarkan sahabat masa kecilku. Betapa mirisnya kondisi mereka, yang sibuk dengan media social, yang sibuk membanggakan kekayaan orang tuanya, yang sibuk memikirkan “pacaran”, yang sibuk dengan kehidupan yang fana ini. Betapa mirisnya mereka yang harus dewasa sebelum waktunya. Sungguh, aku sungguh miris sekali.

Dahulu kita sibuk bermain di lapangan, saling belajar mengendarai sepeda, bermain masak-masakan, berkejaran di bawah terik matahari, diteriaki oleh orang tua kita untuk berhenti bermain di luar. Bagaiman sekarang> mereka sibuk di depan computer atau alat elektronik lainnya, mereka diteriaki di dalam rumah untuk berhenti menggunakan alat tersebut, sungguh kesenangan mereka tak seindah kesenangan kita dahulu.

Bukan bermaksud membandingkan, apakah mereka punya masa lalu yang harus diingat jika besar nantinya? Apakah mereka pernah merasakan tertawa bersama saat ada yang terjatuh dari sepeda, apakah mereka pernah berlarian ke sana kemari untuk menghindari diri menjadi penjaga. Oh sungguh, mereka tak merasakan itu.

Dear Sahabat di Masa Kecilku,

Jika suatu saat kita sudah berkeluarga dan memiliki anak, ayo kita ajak mereka bermain permainan semasa kecil kita, ajak mereka bercengkerama di bawah pohon rindang, semoga masa kecil mereka seindah masa kecil kita.
Secara penglihatanku, masa kecil mereka tak sebahagia dan seunik masa kecil kita.

Orang lain boleh datang dan pergi, tapi sahabat sejati selalu ada di hati

Pernah mendengar penggalan kalimat dari film “Mengejar Matahari” ini? Ya, kalimat sederhana yang maknanya begitu dalam terasa. Menyadarkan kita bahwa punya sahabat sejati adalah sebuah keberuntungan. Kehadirannya yang menjadikan hidupmu terasa lebih bermakna dan membahagiakan.

Namun, seringkali kita tak sadar ketika kesibukan dan rutinitas harian membuat kita melupakan mereka. Dari sekian teman yang saat ini kamu punya, ingatkah kamu dengan sahabat di masa kecilmu dulu? Apakah kalian masih sering bertemu, ataukah kamu dan dia tak lagi akrab seperti dulu? Sadarkah kamu bahwa mereka sebenarnya adalah hartamu yang paling berharga?

Sahabat di masa kecil akan menerimamu apa adanya, karena hubungan di antara kalian disadari rasa tulus semata

Sebagai sahabat, tidak ada yang ditutup-tutupi diantara kalian. Bagaimanapun kalian memang telah mengenal pribadi masing-masing sejak kecil. Persahabatan kalian memang boleh dibilang ikatan yang sehati karena didasari sikap tulus khas anak kecil.

Kamu dan dia mengerti bahwa persahaban memang sepatutnya menanggalkan gengsi. Semua dijalani dengan jujur tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi. Terlebih, teman masa kecil akan mengajarkan kita bahwa persahabatan tak seharusnya mengharap apapun. Sekadar bisa menghabiskan waktu bersama sudah cukup membuat kalian merasa bahagia.

Pertemanan tak hanya melibatkan kamu dan dia, tapi juga dua keluarga yang kalian cintai dengan porsi yang sama

Tak mengherankan jika orang tua sahabat juga menganggapmu sebagai anak mereka sendiri. Sebaliknya, orang tuamu pun melakukan hal yang sama. Banyak waktu yang kalian habiskan bersama, sesekali kamu pun menghabiskan malam dengan menginap di rumahnya. Tak ada rasa canggung lantaran keluarganya pun terasa seperti keluargamu sendiri. Meski tak punya ikatan darah, kalian punya hubungan yang erat dan dekat.

 

Tak ada rasa canggung saat datang ke rumahnya. Datang tanpa mengetuk pintu hingga masuk ke kamar sahabat pun jadi hal yang biasa

Teman masa kecilmu tahu jika mereka bisa masuk ke rumahmu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, mereka juga tahu di mana letak kamarmu dan tempat kamu menyimpan mainan favorit. Begitu pun sebaliknya, orang tua mereka yang sudah menganggap kamu sebagai anak sendiri tentu tidak keberatan jika kamu menghabiskan waktu di rumahnya, bahkan saat sahabatmu tidak ada di rumah sekalipun.

Tak peduli seburuk apapun masalah yang menimpamu, sahabat adalah pendukung yang selalu siap dibelakangmu

Tak peduli seberapa beratnya masalah yang sedang menimpamu, dia adalah sosok yang akan selalu mendukungmu. Pertemanan kalian yang terpupuk sejak kecil telah membuat dirinya memahami apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu.

Di titik-titik terendah dalam hidupmu, dia akan hadir sebagai sahabat yang setia mendampingi. Dia siap jadi tempatmu berbagi keluh kesah dan cerita. Dia pun akan dengan senang hati membantumu menemukan solusi atas masalah-masalah yang sedang kamu alami.

Memberimu kritikan bukan berarti ingin menyakiti. Dia hanya berharap agar kamu bisa jadi pribadi yang lebih baik lagi

Dibalik sosoknya yang sering terlihat konyol, dialah orang yang akan selalu mendorongmu untuk menjadi yang lebih baik. Sahabat tak akan canggung memberimu saran dan kritikan. Satu-satunya yang dia inginkan adalah melihatmu bertumbuh jadi seseorang yang lebih sukses dan berhasil di masa depan.

Namun, sebagai sahabat dia pun mengerti kapan waktu yang tepat untuk menyemangatimu. Dia tahu kapan harus mencecarmu dan kapan dia berlaku layaknya teman paling gilamu. Persahabatan kalian terasa seimbang lantaran kalian sama-sama mengenal dengan dalam.

Sebagai sahabat, dia tak rela melihatmu disakiti. Dialah kawan yang akan membantumu menjaga nama baik dan harga diri

Walaupun mereka adalah orang yang paling ahli untuk membuatmu malu, tapi perbuatan itu tidak akan pernah dilakukannya di depan umum. Karena candaan kalian adalah kesenangan yang bisa dirasakan ketika kalian sedang bersama. Dia adalah sosok yang akan menjaga harga dirimu di depan umum. Dia tak rela jika melihatmu dilecehkan atau tersakiti. Tapi saat kalian bersama, kamu dan dia bisa jadi rekan yang paling gila.

Hubungan yang sangat dekat menjadikan kalian layaknya saudara meski lahir dari orang tua yang berbeda

Walaupun tidak memiliki hubungan darah, ikatan persaudaraan kalian menjadi kuat layaknya saudara sendiri. Banyaknya pengalaman yang kalian alami bersama menjadikan ikatan di antara kalian begitu erat. Jika kakak atau adik adalah saudara yang dipilihkan oleh Tuhan untumu, sahabat di masa kecil ibarat saudara yang kamu pilih sendiri.

Kawan sejati tak merasa iri atau cemburu dengan pencapaianmu. Justru dia akan ikut berbangga melihat setiap pencapian dalam hidupmu

Kebahagiaanmu adalah kebahagiaannya juga. Dia adalah sosok yang tidak akan cemburu atau iri akan pencapaian yang kamu raih. Bagi dia, melihat segala prestasi dan pencapaian yang kamu raih adalah sebuah kebanggan tersendiri.

Karena dia mengetahui perjuangan yang kamu lalui untuk mencapai titik tertinggi dalam hidupmu. Dia yang tahu betapa kamu harus jatuh bangun demi bisa meraih mimpi dan cita-citamu itu.

Sejenak meremang masa lalu membuatmu tahu, bahwa sahabat adalah bagian terindah dari masa kecilmu

Banyak kenangan tentang masa lalu yang sampai hari ini tertinggal dalam kepala. Tapi dari sekian cerita yang kamu punya, kisah tentang sahabat masa kecil adalah yang paling berharga. Banyak hal tentang kamu dan dia yang bisa jadi pelajaran dan pengingat di usia dewasa. Punya sahabat di masa kecil membuatmu sadar bahwa harta tak selalu soal uang atau benda. Tapi dia, kawan sejatimu semasa kecil pun layak disebut sebagai hartamu yang paling berharga.

Apakah kamu pun punya sahabat di masa kecil? Sudahkah kamu mulai kangen dengan teman masa kecilmu dulu?

Jangan pernah memutuskan hubungan pertemanan dengan siapapun, terlebih dengan sahabatmu sendiri. Ingat, lebih susah mencari sahabat daripada mencari kekasih. Jaga baik-baik sahabatmu, ya!

Jakarta menjelang Sore, untuk jiwa-jiwa yang merasa terasing dalam keterasingan… you oughta know, you’ll never walk alone…

Dituliskan ketika aku merindukan sahabat dan masa kecilku. Dituliskan ketika suasana dingin menelusuri tubuh.

Untukmu sahabatku :

Gublink Selamanya

Gublink Selamanya “Pantai Watu Karung Pacitan, Jawa Timur”

Dari Kiri :

  1. Agung Nugroho
  2. Sigit Utomo
  3. Winda Novianti
  4. Imam Agus Isdiyanto
  5. Wahyu Purnomojati
%d blogger menyukai ini: